Are you ready to share your life with your mate?

Enggak sedang galauu.. enggak.. dan nyaris enggak banget dalam galau.. heheheh.. *takut dibilang galau..* cumaaaan, mau nge-share aja, atas apa yang udah pernah saya liat, saya temuin dan saya rasakan.. Then, rasa itu terulang kembali alias, “eh, kayaknya pernah gini deeh.. ” yess, that’s all.. enggak ada yang gimana-gimananya yaa bookk.. oke, here we go..

punya pasangan? atau belahan jiwa? ataau orang yang mau dijadikan suami atau istri?
oke, kalau nggak punya yah nggak papa.. tapii, kesiaaaan deh MBLO.. ahahhaa.. sorry.. yah yang belum, gasah baca juga gapapa, klo mo baca ya makasih aja, sapa tau bermanfaat..πŸ™‚

naaah, jadi gini
ada pertanyaan dimana pertanyaannya adalah, Are you ready to share your life with your mate? (Udah siap belum sih kamu membagi hidupmu dengan pasanganmu?)

kesiapan seseorang diliat dari mananya? apa sih indikasi seseorang dikatakan siap atau nggak siap untuk berbagi dengan pasangannya.. Gak ada kan? tapii, kalo tips-tips memilih pasangan hidup, dari versi Agama, chemistry of love, versi realistis ataupun materialistis udah dibahas banyak..

Naah, karena nggak ada, saya mau ngebahasnya.. Oke, emang saya belum menikah dan belum tau mau menikah kapan, rencana mah ada, cuman kapannya kan cuman Allah yang tau.. ya kan? doakan saya..πŸ™‚

MENURUT SAYA..

seseorang dikatakan siap buat berbagi hidupnya dengan pasangannya adalah ketika dia sudah mampu mengendalikan keegoisannya terhadap dirinya sendiri ataupun kepada pasangannya..

ya gak sih?

menurut saya sih gitu.. karena apa?
yaaaa karena kalau selama orang itu masih egois, berati dia belum bisa berbagi, belum mau diajak kerjasama dimana kesemuanya melibatkan dirinya dan pasangannya.

tingkatan egois macaem-macem dalam sebuah hubungan, tapi yang jelas keegoisan akan sangat nampak dari sikapnya.. Cara bicaranya.. dan apa yang ada di otaknya..

contoh kasus,

duluuuuuu,
pacar saya (sekarang udah mantan semantan-mantannya), selalu komplain dengan jam kerja saya.. everyday is berantem day.. gara-gara saya bisa dikatakan over working.. lembur bukan karena kejar setoran, atau karena sibuk juga bukan, tapi memang pekerjaan dikantor saya mengkondisikan saya untuk selalu overtime dan overtime.. but, okeh, bisa dibilang saya bego jadi lambat kerjanya.. hehehhee..
dia pernah bilang, “kalau kamu kayak gini terus, aku nggak yakin hubungan kita bisa langgeng.. aku butuh waktu kamu buat kita berdua, nggak cuman buat aku tapi juga buat kamu..”

see?

dulunya pacar yang baik kan?πŸ™‚
tapi saya? Saya egois, karena mementingkan pekerjaan saya daripada sebuah hubungan yang mungkin akan menjadikan saya lebih baik atau menjadi lebih buruk.. dalam hal itu, saya egois dan jelas saya nggak bisa ngeshare hidup saya dengan orang lain.. yang ada cuman, SAYA KERJA..

duluuuuuuuu, (masih kisah dg mantan pacar)
kalau si pacar ini kemana-mana saya minta report.. sedangkan saya? mo kemana juga tinggal pergi gitu aja, report-nya? kalau inget doang.. *duuh keliat buruk bgt sih saya.. hahahaa*
sampai pada suatu ketika dia bilang, “We never know what happened in last minutes..”
case nya adalah, ketika saya pulang dari Jakarta ke Solo, naik armada udara negara tetangga.. Udah bilang sih kalau mau pulang ke Solo, tapi ternyata buat si pacar hal ini nggak cukup loohh.. disempetin juga ribut gara-gara pas saya udah di pesawat nggak ngabarin.. yah saya pikirnya, lah kan udah tau kalau mau pulang ke Solo, dan di pesawat HP mesti mati.. guess what he said?

he told me that,
“Kita kan nggak pernah ngerti apa yang akan terjadi di menit dan detik terakhir, bisa jadi kan kalau SMS kamu semalem itu ternyata SMS terakhir.. Bukannya saya mendoakan yang jelek, tapi kalaupun ada kemungkinan terburuk, saya akan merasa lebih siap, seenggaknya saya punya kekuatan untuk menghadapinya.. Memangnya pernah ya? saya udah di pesawat trus nggak telpon kamu? pasti saya telpon kan? saya SMS kalau saya udah masuk pesawat kan? Karena saya pengen kamu tau kondisi up to date yang terjadi sama saya.. Bayangin deh, kalau saya udah masuk di pesawat dan belum take off saya cuman diem aja, ternyata kamu SMS hal penting yang menyangkut nyawa kamu, mana saya tau? dan saya bakal nyesel jadinya. Dan begitupula sebaliknya, kalau hal terburuk terjadi sama saya, seenggak-enggaknya kamu dan mama saya yang paling tau kondisi ter-up to date yang terjadi sama saya.. Saya nggak ngeribetin, tapi karena saya mau share hidup saya sama kamu, karena kamu pasangan saya..” *banyak yang udah lupa, tapi intinya gitu, dulu panjang kali lebar banget.. hihiihii*

Daaaaann.. saya merasakan hal yang sama hari ini.. karma mungkin.. merasa tersakiti gara-gara hal sepele yang terlihat nggak penting dan lebai.. hhmmh.. eniwei, masih percaya karma ga sih?
oke, mungkin kaya gitu lebaaaaiii banget, ribet, nggak penting, nggak sempet dll.. tapii, tau nggak sih? itu penting looh, dan kalau sampai bilang ga sempet laah, helooooo, emang masuk pesawat, pesawatnya langsung terbang? enggak kan? pasti nunggu dulu beberapa menit, biasanya sih 15 menitan.. dan saat itu, masih boleh kok nyalain HP.. kalau memang sudah ada peringatannya sih baru deh matiin tuh HP..

sepele banget, tapiii.. keliatan kan? mana yang bisa share mana yang enggak..

menurut saya,  seseorang sudah siap berbagi hidupnya dengan orang lain jika, dia sudah mengatakan apapun yang pernah terjadi di hidupnya.. baik itu yang baik maupun yang terburuk..

apakah terpikir kalau kita menceritakan yang terburuk akan kehilangan pasangan kita?
kalau menurut saya, serapat-rapatnya kita menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga… ya kan? naah, kalau bangkai nya kelamaan, baunya juga bakal lebih busuk kan? sama halnya dengan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga..sepintar-pintarnya kita berkelit, kita manjat makin tinggi, kalau jatuh makin sakit.. mendingan sebelum banyak waktu yang terbuang, bilang deh apa yang terjadi sama pasangannya.. yaaah, kalau emang kemungkinan terburuknya dia meninggalkan kita, yaudah, berati bukan jodoh kita, gitu aja.. hehhhee

Jikalau, Orang tersebut mau berbagi apapuuun yang dialaminya, baik itu kesedihan, kebahagiaan, canda maupun tawa, InsyAllah dia adalah orang yang siap berbagi..

yah udah jelas karena dia membagi apa yang dia rasakan, dia enggak menutup-nutupinnya.. Enggak melulu mesti di tanyain tentang apa yang dirasakannya, secara otomatis dia sudah merasa bahwa dirinya harus berbagi apa yang dia rasakan dengan pasangannya meskipun itu hal terburuk sekalipun..

Jikalau orang itu mau mendengarkan pasangan dan mau merubah hal-hal buruk untuk menjadi lebih baik bagi keduanya, InsyAllah orang tersebut bisa diajak melangkah berbagi hidup

yang namanya berbagi kan nggak melulu dari satu pihak, tapi pasangan juga mesti berbagi kan? nggak hanya memberi saja, tapi juga memiliki hak untuk menerima.. Tapi, terkadang ada sih sifat-sifat ego manusia yang membuatnya dia merasa lebih penting daripada pasangannya.. Dia nggak mau berubah menjadi lebih baik karena merasa pasangannya mau menerima dia apa adanya, tapi kalau kayak gitu namanya egois. apalagi kita nuntut ini itu, tapi kitanya sendiri nggak mau dituntut.. ya ga? nyesek pastinya..

dengerin pasangan kita berati kita akan tau, kemana arah dan tujuannya, syukur-syukur didapet kesepakatan yang bisa bikin hubungannya lebih baik lagi..

pernah ada yang bilang sama saya, “Kalau menjalin hubungan hanya searah, buat apa?”
yang ada kita capek sendiri.. yang namanya hubungan itu dua arah.. saling satu sama lain.

Jikalau orang itu menjunjung tinggi apa yang telah disepakati dengan pasangan dan memenuhi apa yang telah dijanjikan, InsyAllah he or she ready to share his/her life with his/his mate..

bikin janji itu gampang, nepatin janji, itu yang susah.. bikin aturan ini itu gampang, tapi untuk mentaati aturan yang disepakati, itu yang nggak gampang.. iya atau iya? pikirin sendiri deh..
gimana juga kesannya sama orang yang bikin aturan sendiri tapi dia melanggar aturan yang udah dibuatnya? atau orang yan gkebanyakan janji-janji? yang beginian nih yang termasuk orang yang ga bisa sharing hidupnya sama pasangannya.. kenapa? yah, karena buat dirinya sendiri aja dia nggak peduli, gimana untuk orang lain? meskipun itu pasangannya?

Jikalau, orang tersebut mau mempercayai dan bisa dipercaya, insyAllah dia adalah orang yang bisa membagi hidupnya dengan orang lain

dengan orang lain yang bukan pasangannya aja bisa berbagi, gimana kalau sama pasangannya? iya atau iya?
dan trusting itu penting.. kalau emang ga bisa percaya atau ga bisa dipercaya yaudah, stop it.. enough.. hubungannya gak bakal bisa jalan mulus.. yakin deh..πŸ™‚

Jikalau, Orang tersebut mau menerima pasangannya apapun yang terjadi sama pasangannya apa adanya, InsyAllah dia adalah orang yang siap berbagi hidupnya dengan pasangannya..

nggak gampang kan menerima kekurangan seseorang? apalagi kekurangan itu nampak jelas dan lebih dominan.. kalau kelebihan sih insyAllah bisa diterima dengan mudah, yah, kecuali kelebihan berat badan siih.. hehhehe.. kalaupun ada orang yang sudah memenuhi jikalau-jikalau yang saya sebutkan sampai kata-kata ini, pastikan dia menjadi pasangan kita.. Kalau bisa jangan sampai disakiti atau ditinggalin.. nggak gampang nyari orang dengan kesiapan berbagi hidup seperti itu.. kebanyakan mah, bagi yang gaenak-gaenak, giliran enaknya ga mau berbagi.. hehhee

Jikalau, Orang tersebut mau mengalah untuk pasangannya demi kedamaian hubungannya dengan pasangannya, insyAllah dia adalah orang yang mau berbagi..

mengalah bukan berarti kalah kan? tapi dia mengambil jalan tengah dengan mengorbankan sedikit perasaannya dan kepentingannya, agar apa yang telah diupayakan olehnya dan pasangannya tidak menjadi sia-sia belaka..πŸ™‚

Jikalau orang tersebut mau berbagi isi dompet dan tabungannya bersama pasangannya, insyAllah dia adalah orang yang mau berbagi..

muahahahahhaa.. ya iyaaalaahh.. jelas berbagi yang bikin nyesek kalau ikatannya cuman sekedar pacar.. hehhee.. oke.. oke.. Realistis dan materialistis memang tipiiis banget bedanya, tipisnya kaya sehelai rambut dibelah jadi tujuh.. hehhehe.. kapan-kapan deh saya bahas yaa..πŸ™‚

dan mungkin.. orang yang siap berbagi hidup sama pasangannya adalah orang yang jelas-jelas mengajak kita untuk hidup bersamanya..
hihiii, misalnya sampai keluar pertanyaan, “will you marry me?”
uaaaaaaahh.. saya kok belum ditanya begitu ya?.. muahahahhahhhahahaaaaaa..
kenapa saya bilang mungkin? karena bisa jadi, ajakannya menikah karena dia hanya ingin menunjukkan keseriusannya.. Dengan menunjukkan keseriusan itu beda sama siap berbagi hidup.. belum tentu orang yang serius bisa berbagi hidup, tapi kalau orang mau berbagi hidupnya, insyAllah dia bener-bener serius dengan apa yang menjadi keputusannya..
nggak gampang buat seseorang untuk berbagi hidupnya dengan orang lain.. banyak hal-hal yang menjadi penentu atau penilaian.. apapun itu, adalah pilihan yang diambil menurutnya untuk kehidupan yang lebih baik dan lebih baik lagi.. Pastikan bila mencintai seseorang adalah mencintai orang benar-benar siap berbagi hidupnya dengan pasangannya.. Kalaupun memang nggak siap-siap untuk berbagi, maka tinggalkan saja, masiiihh banyak yang lain yang ngantri buat kita.. 
Dan Allah nggak pernah tidur, jadi Allah tau, mana yang terbaik buat kita..πŸ™‚

oke, udahan ya? capek euy ngetiknya, meskipun di kepala saya masih banyak banget yang pengen diceritain..
semuanya terserah anda, apakah anda siap berbagi atau tidak.. bagaimana anda berbagi dan seperti apa anda berbagi itu semuanya terserah anda, karena yang menjalani kehidupan anda adalah anda sendiri.. dan Logisnya, hanya anda yang tau “Are you ready share your life with your mate?”πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s