(mungkin), Saat ini adalah yang terbaik untuk saya.. :)

Hari ini judulnya mau berbagi kisah tentang apa yang sudah saya alami.. Yang pernah terjadi di hidup saya.. Dan ditulis, biar kelak suatu saat nanti saat saya sudah tua, hal ini bisa menjadi sebuah semangat dan pengingat saya dalam mengaambil decision dalam hidup..
Hmmmhh..  :)
Hari ini, tanggal 2 November 2011, saya duduk di depan komputer di rumah, Jl. Cocak 2 No.24 Solo.. waktu cepet banget ya berlalunya? cepet banget.. time flies.. nggak kerasa, berati sudah 1 tahun ini saya berada di Solo, kerja freelance (keputusan yang sangat beresiko untuk masa depan..)
Seharusnya per tanggal 1 Nvember kemarin, saya sudah bekerja di W**d Li**ng Singapore sebagai desainer Interior, atau sudah berada di sebuah gedung tinggi kantor pusat C**E Kuala Lumpur, Malaysia.. Atau sudah berada di ibukota, bekerja sebagai dosen di I**i Co***ge..

kesempatan yang sungguh menggiurkan bukan? yang seharusnya saya kejar mati-matian demi karir saya.. kesempatan yang menjadikan saya mungkin akan terlihat lebih..
Restu dari orang tua sudah saya kantongi, support dari kelurga besar sudah saya dapatkan, tiket masuk perusahaan-perusahaan itu juga sudah saya genggam.. Gerbangnya sudah di depan mata.. Berkas sudah disiapkan, tinggal mencari stempel dan tanda tangan saja.. Apalagi?

Sebelumnya, saya meminta maaf kepada semua pihak.. Baik dari Perusahaan, maupun juga kepada orang-orang yang telah mensupport saya, yang ikut mewujudkan mimpi itu menjadi nyata.. Terutama saya memohon maaf kepada Almamater saya, bapak ibu dosen, kepada semuanya.. karena saya hanya melakukan yang menurut saya terbaik untuk saya.. *sedih, nangis*
Sungguh pak, bu Dosen.. Lulusan desain Interior UNS nggak kalah dengan lulusan Universitas terkenal lainnya.. Saya membuktikannya.. Semua ilmu yang telah diajarkan, membekas dibenak saya.. Saya sangat berterimakasih sekali.. terimakasih, terimakasih dan terimakasih.. Juga buat pria tua cerewet yang telah mendidik saya dengan kerasnya di Jakarta.. Terimakasih sekali.. hehee..

oke, saya mulai ceritanya..
ceritanya adalah ketika saya iseng-iseng mengirim CV ke perusahaan yang menurut saya good looking, searching melalui internet.. Perusahaan itu adalah WL yang mempunyai cabang di Singapore.. saya kirimin CV saya, sebulan, dua bulan, lima bulan, nggak ada kabar sama sekali, saya hanya mikir, nggak mungkin ketrima karena CV nya pakai bahasa Inggris yang belepotan, apalagi pake kata-kata, “sorry, I can’t speak English well” itu kata-kata ajaib andalan saya kalau harus interview bahasa Inggris atau harus ngomong sama orang asing.. iya, saya selalu gagu dan akhirnya apa yang di otak saya nggak bisa diomongin, hehhee

naah, minggu ke 2 saat lima bulan itu, WL buka lowongan lewat Jobs DB, saya coba apply lagi.. masih iseng, nggak niat.. cuman bermodal, siapa tahu..πŸ™‚

dua hari setelah itu, ada telpon dari +65 xxxxxxx.. saya nggak ngeh itu dari Singapore, saya jawab, “Assalamu’alaikum, sinten nggih?“.. kirian juga orang Jawa-jawa aja, ini kebiasaan buruk saya.. Mana ngerti dia Sinten Nggih? mungkin dikira saya alien dari mana.. Terus di seberang bilang, Good Afternoon, I’m from blablabla, may I speak/talk to miss Retno Ria blablabla.. baruu deeh ngeh disituu.. hehehhee..
saya jawab seadanya, maklum, Inggris saya jelek dan blepotan sungguh.. panggilan interview.. itu intinya.. whoottss? di Singapore? Mana ada saya paspor? duit dari mana? pakai air esia ntar bisa berangkat nggak bisa pulang.. trus saya disana karena ga bisa makan minta-minta sama orang, trus saya dijual, dipaketin sampai Somalia.. aakhh. nonoonooo.. *dalam hati*

Tapi ternyata nggak gitu, hehehe.. mereka mau ngabari lagi.. trus dateng email dari Mr. Kim.. dia mau ke Jakarta dan interview saya dan beberapa orang lainnya..padahal yah, itu CV sangat ala kadarnya, tapi dia bilang kalau dia udah sreg untuk mempekerjakan saya… intinya OK, you can move here! gitu deh.. saya bilang kalau saya nggak bisa ke Jakarta, saat itu saya pegang proyek di Solo. Spekulasi, rayu-rayu dikit, akhirnya bisa interview lewat Skype.. uhuuiii.. canggih ya? suwer, baru kali itu, merasa surga ada di bawah telapak kaki ibu.. dekeeeet banget *ga nyambung emang*

lalu saya disuruh bikin desain furniture dari kayu.. kirimin email.. dia bales email, saya disuruh berangkat, dan move on starting Nov 1st 2011.. seminggu nggak saya bales, dua minggu kemudian saya kirim email, mohon maaf saya nggak bisa..

beberapa jam kemudian,
dia telpon lagi.. tapi dengan halus dan mesranya saya bilang maaf, nggak bisa.. Kata-katana sudah saya susun sebelumnya, saya apalin, jadi kalau sewaktu-waktu ada email atau telpon bisa jawab lancar tanpa menyakiti hati.. niat banget pokoknya.. *smile ear to ear*

Lalu sebuah perusahaan Malaysia, lagi-lagi,faktor dewi fortuna dan senjata saya adalah Dhuha, maka keisengan saya berbuah hasil, kerja di Malaysia tanpa interview, tapi trainning dulu di Jakarta 2 bulan.. cuman beberapa kali email-email dan telpon dari nomer +60 xxxxxxx tentang negosiasi gaji.. Nggak tau ini sebuah ujian atau apa, nggak ngerti pokoknya.. saya bilang dokumennya nggak lengkap, tapi mereka mau bantu siapin dokumen..

Lalu, pada september Kemarin, sebuah Email dari yayasan sekolah di Jakarta, yang menanyakan pada saya apakah posisi dosen akan diambil atau enggak? dan batas jawabannya adalah 1 Oktober kemarin.. CV nya udah dari setahun yang lalu saya ngirimnya, dan interview-nya juga udah saya lakukan dulu pas cuti kantor saat masih kerja di Jakarta.. dan karena memang mengajarnya pada saat tahun ajaran baru ini.. dan lagi-lagi setelah berdebat panjang dengan hati nurani dan Allah tentunya, maka saya jawab, “Maaf, saya belum bisa bergabung dengan perusahaan yang bapak pimpin. Sungguh, merupakan kesempatan yang luar biasa bagi saya dan blablablabla..” 

Lagi, saya mengirim CV ke sebuah perusahaan di Surabaya, interview dan diterima dengan gaji diatas 3juta dibawah 7 juta.. Katanya segitu termasuk besar untuk ukuran desain interior seperti saya, perusahaan itu menerima saya bekerja di perusahaannya, saya diberi waktu berpikir 2 hari untuk mengambil pekerjaan itu atau tidak, dan pada akhirnya, saya dengan berat hati, telpon di kari Kamis siang dan bilang, “maaf, tidak..”πŸ™‚

Kenapa?
Sayang kan? mumpung masih muda..
Bodoh banget sih, nggak diambil..
Kesempatan langka, nggak datang dua kali..

itu pertanyaan semua orang yang tau akan hal ini..
tapi.. What are you doing if you standing on my shoe?
dibenak saya yang terjadi ketika saya harus mengambil keputusan untuk semua hal itu adalah..

1. Apakah di sana nanti saya masih bisa ISTIQOMAH?

di Solo, 8 April 2011 yang lalu, saya mulai memakai hijab, dimana seharusnya sudah saya pakai sejak saya akhil baliq.. *nangis*

berapa besar dosa saya yang harus saya tebus? apakah saya masih bisa menjaga shalat saya? apakah nanti saat saya sibuk dan sudah punya uang, apakah saya masih bisa bersikap ramah terhadap semua orang? Apakah saat saya stress dengan pekerjaan saya masih bisa enjoy dan mengontrol emosi saya? (mengingat saya berusaha berjuang melawan emosi setiap hari) Apakah saya masih bisa puasa senin kamis? Dhuha? dll.. apa saya masih bisa?

Bagaimanapun juga takdir saya adalah seorang wanita.. bukan berarti tidak emansipasi wanita atau apapun, tapi di dalam Islam, sudah ada batasan-batasan untuk wanita.. dan ketakutan terbesar saya adalah kalau Allah marah sama saya.. Mungkin, kalau saya kerja di Malaysia yang notabene adalah muslim, saya masih bisa istiqomah, tapi, bagaimanapun, saya menyadari bahwa saya mudah tergoda imannya.. Bayangan saya adalah kalau sampai lepas hijab gimana? Belum tentu disana saya akan menjadi lebih baik, atau lebih bahagia..

oke, itu mungkin hanya ketakutan saya dan hanya pikiran-pikiran buruk saya, tapi, Anda tidak berada di posisi saya kan? apakah salah seandainya saya mengkhawatirkan iman saya?
Nggak usah ditanya tentang shalat malam, karena pasti saya lakukan.. untuk mencari jawab pasti.. dan Allah pun memberikan saya kebahagiaan disini dengan pikiran-pikiran saya yang menjadi cerah dan terbuka dalam menyikapi tawaran-tawaran menyilaukan itu.. Semakin hari semakin ragu..
dan saya inget sekali pesan pak Mulyadi, dosen saya dulu.. Da’ maa yuribuka ila ma la yuribuka yang artinya, kalau kamu ragu-ragu maka jangan kamu kerjakan.. maka, apa salahnya saya menolak semuanya?πŸ™‚

Saya yakin, Allah akan menggantinya dengan hal yang jauh lebih besar dari apapun.. Dunia bukan segalanya..
Saya ingin mati dalam keadaan yang baik, dalam keadaan Islam.. Dan entah mengapa saya merasa bahwa saya dekat dengan kematian, kapanpun dimanapun, pasti saya mati.. Bagaimana dengan bekal saya di akherat? saya ga punya apapun.. Di dunia saja rumah belum ke beli, apalagi di Surga..

2. Bagaimana dengan yang ada di sini?
meninggalkan keluarga mungin memang masalah besar, tapi bukan yang terbesar.. Yang saya pikirkan adalah, saya sedang merintis pekerjaan dengan 2 orang yang sudah berkeluarga, yang menitipkan sebagian tombak rejekinya pada saya.. Saya sangat berperan dalam kelangsungan pekerjaan ini.. Memang mereka bisa mencari orang lain yang lebih baik dari saya, tapi kekecewaan nggak bakal sembuh dengan cepat.. Silahturakhim nya pasti jadi nggak baik…

Dan yang terlintas adalah, kalau suatu saat diposisi yang sama, suami saya atau mungkin saya, menggantungkan kunci usaha pada seorang dan orang itu keluar dari pekerjaannya demi hal yang lebih baik lagi.. gimana? apa rasanya?

Memang itu resiko dan harus ikhlas, tapi kalau kondisinya sudah berdiri tegak gak masalah, lah ini, baru merintis, dan mereka mempunyai keluarga yang satu butuh biaya untuk sekolah, yang satu untuk membesarkan 2 anaknya yang masih batita.. belum lagi, pekerja yang lain, mereka semua yang punya tanggungan, yang setiap harinya harus memberi makan anak istrinya.. itu yang bikin saya sedih.
Saya sok pahlawan? iya, karena saya pernah kecewa.. dan saya nggak mau ngecewain mereka..

Naive banget? Iya
Mellow? Iya
Bodoh? Iya
saya akui semuanya.. tapi ini demi kebaikan saya sendiri.. Dan saya yakin Allah akan memberikan jalan yang baik dan memberi lampu terang yang lebih terang lagi..

tidak semuanya bisa dibeli dengan uang kan? melihat orang lain tersenyum adalah hal yang paling membahagiakan.. belum tentu juga disana lebih baik.. Siapa tahu disini meskipun dengan penghasilan kecil tapi justru itu yang paling barokah, yang membuat saya selalu dekat dengan Allah dan keluarga saya.. Iya, semoga berkah dan bermanfaat, amin.

Dan sekarang saya disini, berusaha untuk istiqomah, berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, bekerja sebaik-baiknya, mendekatkan diri dengan Allah.. semoga Allah masih sayang dengan saya.. dan saya memilih bahagia dengan cara saya sendiri.πŸ™‚

* sayup-sayup denger lagunya, Andra and the backbone, Sempurna.. ya Allah, Kau begitu sempurna..πŸ™‚  *

9 thoughts on “(mungkin), Saat ini adalah yang terbaik untuk saya.. :)

  1. Riaaaaa…..entah, kenapa aku sampe mbrebes baca tulisanmu yang ini….entah terharu karena kisahmu, atau berkaca atas apa yang udah aku jalani sampe hari ini…semoga istiqomah…bekerja tidak melulu karena uang, ada passion, tanggung jawab moral, dan pastinya ibadah…semoga sukses riaaa….kereeenn….semoga berkahπŸ™‚

  2. Ririiiiss.. *peluk erat*Amiin, amin, amin.. suwun doanya, nggih? :)inshaAllah Ris, menjadi orang yang lebih bermanfaat..keren? belum sekeren dirimu, sayang.. :)akupun menangis, nyesel.. income 17jt/bulan kapan lagi? ahahahhaa.. enggak deng..πŸ˜›

  3. wow DALAM banget, di dalamnya ada motivasi untuk bermanfaat buat sesama,…Alhamdulillah, Alhamdulillah, tidak ada keraguan sedikitpun manusia yang bersemangat untuk bermanfaat buat sesama…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s